E.Teori KlasikThomas Robert Malthus
a) Prinsip Teori
o Konsep Pembangunan
Proses pembangunan menurut Malthus adalah suatu proses naik-turunnya aktivitas ekonomi lebih dari sekedar lancar-tidaknya aktivitas ekonomi. Proses pembangunan ekonomi tersebut tidak terjadi dengan sendirinya tetapi memerlukan berbagai usaha yang konsisten di pihak rakyat.
o Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi
Menurut Malthus, pertumbuhan penduduk merupakan akibat dari proses pembangunan yang mana tidak mungkin bisa terjadi tanpa adanya peningkatan kesejahteraan yang sebanding. Hal ini dikarenakan apabila tingkat akumulasi modal meningkat, maka permintaan atas tenaga kerja juga akan meningkat yang mana selanjutnya akan mendorong pertumbuhan penduduk. Namun, pertumbuhan penduduk akan mampu meningkatkan kesejahteraan apabila permintaan efektif meningkat.
o Peranan Produksi dan Distribusi
Malthus menganggap bahwa produksi dan distribusi sebagai dua unsur utama kesejahteraan yang mana apabila diproporsikan secara benar akan mampu meningkatkan kesejahteraan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, Malthus lebih menekankan pada produksi maksimum dan alokasi optimum sumber-sumber guna meningkatkan kesejahteraan negara dalam jangka pendek.
o Faktor-Faktor Pembangunan Ekonomi
Faktor-faktor pembangunan ekonomi dalam teori Malthus terdiri dari 4, yakni tanah, tenaga kerja, modal, dan organisasi yang mana apabila diproporsikan secara benar akan mampu memaksimalkan produksi sektor pertanian dan sektor industri. Adapun penyebab utama peningkatan produksi pertanian dan industri adalah akumulasi modal, kesuburan tanah, dan kemajuan teknologi. Selain itu, ada pula faktor non ekonomi yang mempengaruhi pembangunan ekonomi, yakni keamanan atas kekayaan, konstitusi dan hukum yang baik dan dilaksanakan sebagaimana mestinya, kerja keras dan kebiasaan teratur, serta sifat jujur pada umumnya.
o Proses Akumulasi Modal
Malthus mengungkapkan bahwa peningkatan kesejahteraan yang mantap dan berkesinambungan tidak mungkin tercapai tanpa adanya penambahan modal secara terus menerus yang mana sumber akumulasi modal tersebut adalah laba, yakni tabungan yang disisihkan dari keuntungan yang meningkat, bukan karena pengurangan pengeluaran pada barang-barang mewah. Hal ini dikarenakan, tabungan yang didorong secara berlebihan dengan pengurangan pengeluaran akan merusak motif ke arah produksi sehingga pertumbuhan ekonomi akan menjadi lamban.
o Kekurangan Permintaan Efektif
Malthus beranggapan bahwa di dalam pasar, komoditi dalam jumlah besar akan ditukarkan secara langsung dengan tenaga kerja daripada dengan komoditi. Hal ini akan menyebabkan kelebihan penawaran komoditi di pasar dibandingkan dengan permintaannya sehingga akan terjadi over produksi dan melimpahnya komoditi di pasar akibat rendahnya permintaan efektif (rendahnya konsumsi) yang mana selanjutnya akan berdampak pada turunnya harga, laba, investasi, dan akumulasi modal.
o Stagnasi Ekonomi
Stagnasi ekonomi menurut Malthus akan terjadi ketika persediaan melimpah dan konsumsi rendah yang mengakibatkan harga turun, laba berkurang, investasi turun, dan kemampuan akumulasi modal berkurang. Rendahnya konsumsi dan persediaan yang melimpah ini dikarenakan kurangnya permintaan efektif akibat investasi pemilik modal pada tenaga kerja produktif untuk meningkatkan persediaan modal sehingga upah akan naik. Namun, naiknya upah tenaga kerja ini tidak meningkatkan konsumsi karena para pekerja lebih suka bersenang-senang.
o Langkah-Langkah Peningkatan Ekonomi
Langkah-langkah peningkatan ekonomi menurut Malthus terdiri dari dua cara, yakni pertumbuhan berimbang pada sektor pertanian dan industri dengan melibatkan kemajuan teknologi pada kedua sektor tersebut serta menaikkan permintaan efektif dengan pendistribusian kesejahteraan dan pemilikan tanah secara adil, memperluas perdagangan internal dan eksternal, dan mempertahankan konsumen tidak produktif.
b) Kelemahan Teori
o Stagnasi Sekuler Tidak Melekat Pada Akumulasi Modal
Menurut Malthus, konsumsi rendah secara permanen dapat terjadi pada semua komoditi padahal dalam kenyataannya, konsumsi rendah bukan suatu gejala tetap melainkan hanya sementara sehingga stagnasi sekuler tidak melekat pada proses akumulasi modal.
o Pandangan Negatif Terhadap Akumulasi Modal
Malthus memandang bahwa akumulasi modal akan menimbulkan stagnasi sekuler, namun pada kenyataannya akumulasi modal tidak menyebabkan berkurangnya permintaan pada barang-barang ataupun turunnya laba. Hal ini dikarenakan apabila akumulasi modal meningkat, maka peranan upah dan laba dalam pendapatan keseluruhan akan meningkat, begitu juga dengan permintaan atas barang-barang konsumen.
o Komoditi Tidak Ditukarkan Dengan Komoditi Secara Langsung
Malthus mengungkapkan bahwa komoditi tidak ditukarkan dengan komoditi, tetapi dengan tenaga kerja. Padahal, tenaga kerja bukan ukuran yang benar bagi komoditi dan dalam kenyataannya komoditi diukur dengan harga nyata, bukan dengan tenaga kerja.
o Konsumen Tidak Produktif Memperlambat Kamajuan
Malthus dalam teorinya menyarankan untuk mempertahankan konsumen tidak produktif untuk mengatasi rendahnya konsumsi dan meningkatkan permintaan efektif, namun hal ini akan mendukung pengangguran sehingga akan menurunkan tingkat akumulasi modal dan memperlambat kemajuan.
o Dasar Tabungan Berisi Satu
Teori Malthus sama dengan teori Smith dalam hal pandangan mereka bahwa hanya para kapitalis, tuan tanah, dan lintah darat yang bisa menabung padahal sumber utama tabungan di dalam masyarakat justru penerima pendapatan dan penerima non laba.
c) Warisan Teori
o Kemajuan Teknologi Dalam Pembangunan Ekonomi
Dalam teorinya, Malthus mengungkapkan bahwa peran kemajuan teknologi sangat penting dalam memaksimalkan produksi di sektor pertanian dan industri dan nyatanya, kemajuan teknologi memang sangat membantu dalam pembangunan ekonomi, tidak hanya dalam maksimasi produksi tetapi juga efektivitas dan efisiensi distribusi barang dimana produksi dan distribusi menurut Malthus merupakan dua unsur utama kesejahteraan.
F.Teori Historic Karl Marx
a) Prinsip Teori
o Penafsiran Sejarah Secara Materiaslistik
Penafsiran sejarah secara materialistik adalah memperlihatkan bahwa seluruh peristiwa sejarah merupakan hasil perjuangan ekonomi secara terus menerus diantara berbagai kelas dan kelompok masyarakat. Sebab utama perjuangan tersebut adalah pertentangan antara cara produksi dengan hubungan produksi. Menurut Marx, karena cara produksi tunduk pada perubahan, maka evolusi masyarakat akan terjadi apabila kekuatan produksi bertentangan dengan struktur kelas masyarakat yang menyebabkan terjadinya revolusi sosial yang akan meruntuhkan seluruh sistem sosial yang ada. Namun menurut Marx, tidak pernah ada tatanan masyarakat yang menghilang sebelum keseluruhan kekuatan produksi berkembang tuntas dan hubungan produksi yang baru atau lebih tinggi tidak akan pernah muncul sebelum kondisi material kehadirannya matang pada masyarakat yang lama.
o Nilai Lebih
Dalam teorinya, Marx menggunakan teori nilai lebih sebagai basis ekonomi bagi perjuangan kelas di dalam kapitalisme dan atas dasar teori inilah Marx membangun suprastruktur analisa pembangunan ekonominya dimana menurutnya perjuangan kelas semata-mata merupakan hasil dari penumpukan nilai lebih di tangan kapitalis.
o Akumulasi Modal
Menurut Marx, para kapitalis akan mencoba memaksimalkan nilai lebih guna memperbesar keuntungannya dengan 3 cara, yakni memperpanjang jam kerja untuk meningkatkan jam kerja tenaga lebih, mengurangi jumlah jam yang diperlukan untuk menghasilkan makanan buruh, dan meningkatkan produktivitas tenaga yang memerlukan perubahan teknologi. Keuntungan ditentukan oleh jumlah modal. Akumulasi dan konsentrasi modal memerlukan modal konstan (modal yang ditanamkan untuk menunjang produktivitas kerja secara langsung) dan modal variabel (modal yang diperuntukkan bagi pembelian tenaga kerja).
o Krisis Kapitalis
Krisis kapitalis merupakan suatu kondisi dimana masing-masing kapitalis mencoba untuk menurunkan harga barang di pasar sehingga banyak perusahaan kecil yang bangkrut. Sebab utama segala krisis ekonomi menurut Marx adalah kemiskinan dan terbatasnya daya beli orang sehingga hasil produksi barang melimpah, jatuhnya harga, dan turunnya produksi secara tajam.
b) Kelemahan Teori
o Nilai Lebih Tidak Realistis
Keseluruhan analisis Marx berdasarkan pada teori nilai lebih, tetapi dalam kenyataannya kita tidak berhubungan dengan nilai melainkan dengan harga yang berwujud dan nyata.
o Ramalan yang Keliru Tentang Evolusi Kapitalis, Sosialis, dan Menengah
Evolusi masyarakat sosialis tidak sesuai dengan yang diramalkan oleh Marx karena ternyata negara komunis masih tetap miskin dibanding negara kapitalis, kaum buruh ternyata cenderung menjadi lebih makmur di dalam perkembangan kapitalis, dan kelas menengah ternyata muncul sebagai kelas yang menonjol bukannya semakin menghilang.
o Kemajuan Teknologi Bermanfaat Dalam Peningkatan Pekerjaan
Marx menerangkan bahwa dengan meningkatnya kemajuan teknologi, maka tenaga cadangan industri akan berkembang. Namun, hal ini terlalu berlebihan karena kemajuan teknologi dalam jangka panjang dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, meningkatkan permintaan, dan memperbesar pendapatan.
o Kecenderungan Jatuhnya Keuntungan Tidak Benar
Marx berpendapat bahwa pada saat pembangunan berjalan, akan ada peningkatan komposisi organis modal yang mengakibatkan penurunan tingkat keuntungan. Namun, ternyata penemuan teknologi juga merupakan tabungan modal dan dengan menurunnya rasio modal output serta meningkatnya produktivitas dan total ouput, maka kenaikan dapat naik bersama-sama dengan upah buruh.
o Tidak Memahami Fleksibilitas Kapitalisme
Hal ini dikarenakan Marx tidak melihat demokrasi politik sebagai pelestari dan pelindung kapitalisme yang membuatnya mampu beradaptasi dengan perubahan waktu.
o Teori Siklus Salah
Marx menganggap siklus sebagai bagian integral kerangka kerja analitisnya. Namun, meskipun berusaha menerangkan suatu proses yang dinamis tentang akumulasi modal, pendapatan, dan keuntungan, Marx ternyata menganalisa permasalahan pertumbuhan dengan alat bantu untuk analisis ekonomi statis.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Teori Pembangunan Ekonomi, http://almasdi.unri.ac.id/bahan_ajar/Ekonomi_Pembangunan/Pertemuan_4_teori_pembangunan_ekonomi.pdf (Diakses tanggal 16 Oktober 2011).
Anonim, Teori Penumbuhan dan Pembangunan Ekonomi, http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_pembangunan/bab_3_teori_pertumbuhan_dan_pembangunan_ekonomi.pdf (Diakses tanggal 16 Oktober 2011).
Arifin, Imamul, dkk, Membuka Cakrawala Ekonomi, http://books.google.co.id/books?id=YdFDu158aF4C&pg=PA15&lpg=PA15&dq=teori+pertumbuhan+solow-swan&source=bl&ots=Sxl2pb13sb&sig=0LFh_uvSui-3MwmLl5DPGfP-SjU&hl=id&ei=3I6aTrywK4PZrQe77IiFBA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=9&ved=0CEoQ6AEwCA#v=onepage&q=teori%20pertumbuhan%20solow-swan&f=false (Diakses tanggal 16 Oktober 2011).
Jhingan, M.L, 2010, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta: Rajawali Press.
Laily, Nelly Nur, 2007, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY Tahun 1990-2004, Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Mujahidin, Muhamad, 2011, Teori Pertumbuhan Ekonomi Menurut Slow-Swan (Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo Klasik), http://mujahidinimeis.wordpress.com/2011/01/18/teory-pertumbuhan-ekonomi-menurut-slow-swan-teori-pertumbuhan-ekonomi-neo-klasik/ (Diakses tanggal 16 Oktober 2011).
Prayoga, Nanang Gilang, 2008, Analisis Sektor Unggulan Dalam Struktur Perekonomian Jawa Tengah Tahun 2000 dan Tahun 2004 (Analisis Input Output), Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Syafrian, Dzulfian, dkk, 2011, Model Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar dan Solow Sebuah Perbandingan dan Studi Empiris, http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/06/04/model-pertumbuhan-ekonomi-harrod-domar-dan-solow-sebuah-perbandingan-dan-studi-empiris/ (Diakses tanggal 16 Oktober 2011).







0 comments:
Posting Komentar